| Saat Marah, Kecaman, dan Kutukan Tak Cukup Untuk Membebaskan Palestina |
| Jumat, 04 Juni 2010 06:27 |
|
Adalah hal menggembirakan ketika melihat umat Islam di seluruh dunia memberikan reaksi yang sama. Hal tersebut mengindikasikan bahwa umat Islam masih memiliki perasaan yang sama sekalipun saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa pada tataran realita umat Islam sedang berada dalam kondisi terpuruk pada titik nadirnya. Dalam bidang ekonomi, umat Islam menjadi pembebek pada sistem ekonomi yang kapitalistik. Dalam bidang pendidikan, umat Islam tertinggal jauh dan hanya menjadi penonton perkembangan IPTEK yang dipimpin oleh Barat. Dalam bidang militer, kisah keagungan militer kaum muslimin semasa kekhilafahan Islam tinggal menjadi cerita indah, mereka (militer negeri-negeri Islam) sekarang lebih sibuk mengurusi perbatasan negeri mereka, dan sesekali latihan perang (lebih tepatnya menjadi kacung) bersama militer Barat. Kesamaan perasaan ini menjadi penanda bahwa ikatan ukhuwwah Islamiyyah masih terdapat di dalam hati umat Islam, sekalipun tidak bisa dipungkiri bahwa nasionalisme menjadi tabir yang menutupi itu semua. Lantas, cukupkah kemarahan, kecaman, dan kutukan yang dilontarkan umat Islam di seluruh penjuru dunia ini menghentikan agresi Yahudi Zionis Israel terhadap bumi Baitul Maqdis? Pun sama halnya dengan tindakan yang dilakukan oleh para pemimpin negeri-negeri Islam, cukupkah protes, kecaman, serta kutukan bisa membebaskan bumi Baitul Maqdis?. Sejatinya untuk menghentikan tindakan Yahudi Zionis Israel dan membebaskan bumi Baitul Maqdis hanya dapat dilakukan dengan Jihad fi Sabilillah. Hal ini mutlak dilakukan mengingat mereka (Yahudi Zionis Israel) tidak lagi mengenal bahasa diplomasi, ditambah selalu mendapat pembelaan Amerika Serikat untuk setiap tindakan mereka. Layaknya pasangan, Israel seperti halnya septic tank dan Amerika seperti truk tangki sedot WC-nya. Mereka hanya mengenal bahasa perang. Sehingga segala bentuk upaya diplomasi sejatinya hanyalah perbuatan sia-sia semata. Termasuk bila berharap pada organisasi-organisasi semacam PBB, OKI, Liga Arab, dll. Mereka hanya bisa mengeluarkan kecaman dan kutukan juga. Paling jauh adalah resolusi seperti yang dilakukan oleh PBB. Itupun dengan mudahnya dibatalkan oleh Amerika Serikat dan dengan entengnya pula Israel tidak menurutinya. PBB tidak lebih dari kacung bagi kepentingan Amerika dan Israel. Sehingga Jihad fi Sabilillah merupakan solusi praktis untuk membebaskan bumi Baitul Maqdis sekaligus memerangi Yahudi Zionis. Sayangnya pemimpin-pemimpin di negeri Islam tidak lebih dari seorang pengecut. Mereka takut dengan hegemoni Amerika atau dengan kata lain mereka tidak lebih dari boneka bagi perpanjangan kepentingan Amerika. Padahal mereka memiliki kuasa untuk mengirimkan pasukan militernya untuk membantu saudara muslim mereka di sana. Paham nasionalisme menjadi penjara yang mengungkung rasa ukhuwwah Islamiyyah mereka. Sehingga penderitaan saudara muslim di bumi Baitul Maqdis sana tidaklah menjadi urusan bagi negara mereka. Jelas-jelas bahwa Jihad fi Sabilillah yang dimaksud tidak bisa diharapkan muncul dari pemimpin negeri-negeri Islam. Nasionalisme dan penerapan hukum selain Islam menjadi kombinasi yang sempurna untuk memperpanjang penjajahan Baitul Maqdis dan penderitaan serta keterpurukan umat Islam secara global. Oleh karena itu, Nasionalisme dan hukum-hukum selain Syariat Islam mutlak dihapuskan dan digantikan oleh Daulah Khilafah Islamiyyah dan Syariat Islam sebagai hukum yang diterapkan. Sejarah yang telah dituliskan mencatat bagaimana batas geografis negara bukanlah penghalang ketika kekhilafahan Utsmaniyyah memberikan bala bantuan bagi kerajaan Islam di Indonesia guna melawan penjajah kafir Portugis di selat Malaka. Berbeda dengan nasionalisme yang saat ini menjadi penghalang bagi bantuan militer untuk membantu saudara se-iman di Gaza, Palestina. Bahkan demi alasan paling sederhana sekalipun, kemanusiaan. |
LDK BKIM IPB Mengucapkan:
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1431H/2010 M KLIK DISINI

![]()
![]()
![]()
![]()