Share on facebook
Membaca Buku Kunci Kemajuan Peradaban
Kamis, 20 Mei 2010 17:49

Oleh: Andi Perdana Gumilang

Hari Buku Nasional yang diperingati pada tanggal 17 Mei 2010, setidaknya memberikan momentum untuk membangkitkan kesadaran akan komitmennya untuk menjadikan buku sebagai menu prioritas agar menjadi kebiasaan dalam membacanya. Kita semua mafhum bahwa buku merupakan sumber informasi, lautan ilmu dan samudra pengetahuan. Dengan menyelaminya, kita akan mendapatkan hal-hal baru, yang mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya selama ini. Melalui buku, kepribadian seseorang terbentuk. Melalui buku pula, peradaban suatu bangsa akan tercipta.

Bangsa yang memiliki sumberdaya manusia unggul, menghasilkan barang kompetitif dan menerapkan teknologi, tidak mungkin terjadi tanpa adanya budaya membaca untuk menyerap informasi yang salah satunya adalah dengan membaca buku. Kenyataan tersebut membuktikan bahwa buku menjadi kunci perubahan dunia. Bisa dipastikan, masyarakat suatu bangsa yang mencintai buku, menjadikannya sebagai menu wajib yang selalu menyertai dalam aktivitas kesehariannya, membudayakan membaca di setiap saat, akan tampil sebagai bangsa dengan tingkat peradaban yang tinggi. Itulah sebabnya buku sering disebut sebagai jendela peradaban. Karena dari bukulah peradaban sebuah negara menjadi maju, dan dari buku pula sebuah peradaban tak memberi makna apa-apa ketika buku diabaikan begitu saja.

Berbicara tentang buku, ada dua aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dan selalu menyertainya, yakni membaca dan menulis. Untuk menggali isi serta kandungan sebuah buku, tidak bisa tidak, kita harus membaca. Dengan membaca maka tersingkaplah segala ’misteri’ yang ada dalam sebuah buku. Dengan membaca pula, kita mampu menyelami alur pemikiran si penulis. Membaca, membuka cakrawala pengetahuan kita. Maka tepat jika ada ungkapan menyebutkan, membaca, membuka jendela dunia. Dalam Islam, membaca merupakan aktivitas pertama yang diperintahkan Allah SWT. melalui firman-Nya, sebagaimana dalam Q.S. Al’alaq: 1-5:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Tuhanmu yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (pena), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."

Dengan demikian Ayat Alquran yang pertama kali turun berupa perintah membaca (iqra) adalah sunatullah. Bahwa kalau ingin maju, kita harus menguasai dan menggunakan ilmu sebagai modal dalam aktivitas hidup melalui membacanya terlebih dahulu ketika menerapkan IPTEK dan menerapkan hukum-hukum Islam, sehingga gerbang utamanya adalah dengan membaca serta memahami ayat-ayat Allah, baik yang qauliyah (Alquran dan Hadis) maupun qauniyah berupa alam semesta beserta segenap isi dan dinamikanya.

Aktivitas lain yang menyertai hadirnya sebuah buku adalah menulis. Karena sebuah buku akan hadir ke tengah-tengah kita bila ada seseorang yang menulisnya. Sejarah mencatat bahwa dengan adanya tulisan-tulisan ilmu dari para tokoh ilmuwan Islam ke dalam buku maka Kita dapat mengenal siapa itu Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Sina, dan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia lainnya. Maka, tepat sekali ketika Sayyidina Ali mengatakan, "Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan ikatan yang kuat, yakni menuliskannya." Dari keterangan di atas, jelas bahwa kehadiran sebuah buku hanya akan bermakna ketika disertai dengan dua aktivitas yang melingkupinya, yakni membaca dan menulis. Buku tidak akan bisa berbicara kepada kita, kalau kita tidak membacanya. Dan, hasil bacaan kita tidak akan bermakna kalau kita tidak menuliskannya.

Namun kenyataannya dalam konteks Indonesia, buku yang merupakan sarana terpenting suatu bangsa sebagai media untuk menyerap informasi terutama bagi proses pendidikan mulai tingkat TK sampai perguruan tinggi (PT) saat ini dinilai kurang menumbuhkembangkan minat untuk membacanya. Kurangnya minat baca dibuktikan dengan Indeks membaca masyarakat Indonesia saat ini yang baru sekitar 0,001, artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan angka minat baca di Singapura. Indeks membaca di negara itu mencapai 0,45. Selain itu berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan ke-38 dari 39 negara dan merupakan yang paling rendah di kawasan ASEAN.(pikiran-rakyat,4/1/2010).

Menurunnya minat baca masyarakat Indonesia tidak terlepas dari kurangnya kesadaran publik akan arti penting membaca bagi peningkatan kemampuan dan kesejahteraan diri maupun bangsa. Adanya serbuan media elektronik (televisi dan internet) yang kebanyakan berisi tayangan hiburan, pornografi, iklan komersial, dan hal-hal hedonistis lainnya menjauhkan masyarakat dari budaya membaca. Kondisi ekonomi pun membuat akses masyarakat terhadap buku-buku bermutu semakin sulit, untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok sehari-hari saja sudah susah, apalagi beli koran, buku, atau bacaan lainnya. Komitmen pemerintah menyediakan buku dan bahan bacaan yang berkualitas dan murah, perpustakaan umum, juga masih rendah.

Solusi Jalan Keluar

Membaca buku merupakan kunci kemajuan peradaban. Dengan ditemukannya aksara sebagai alat komunikasi tulis, kemampuan membaca menjadi sangat penting bagi pembentukan pribadi sekaligus kemajuan suatu bangsa, Buku hendaknya bisa menjadi menu, bukan hanya sekadar pengantar tidur. Untuk itu dibutuhkan kerja sama dan komitmen semua pihak; pemerintah, penerbit, dan masyarakat sebagai penikmatnya untuk mengkampanyekan gemar membaca buku. Dalam hal ini pemerintah harus mampu mendorong dan memfasilitasi kebutuhan buku serta bahan bacaan yang berkualitas dan murah terutama buku-buku keIslaman bagi masyarakat melalui peningkatan ketersediaan pustaka di perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, perpustakaan keliling, maupun saung baca atau desa buku, sedangkan bagi penerbit, hendaknya misi pencerahan untuk kemajuan bangsa lebih diutamakan daripada misi keuntungan yang menaikkan harga produknya (buku) sehingga harga buku menjadi mahal atau sulit dijangkau masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah.

Seandainya harga buku bermutu murah, maka akses masyarakat terhadap membaca buku-buku bermutu akan semakin mudah. Akhirnya momentum Hari Buku Nasional, dapat kita jadikan sebagai titik tolak bangkitnya budaya baca masyarakat Indonesia agar terwujud bangsa yang cerdas, berperadaban Islam, berkarakter, bertaqwa dan maju.

 

Comments 

 
0 #1 mecha 2010-06-29 21:26

Nice...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

LDK BKIM IPB Mengucapkan:

ucapan idul fitri, ucapan lebaran, selamat idul fitri Pictures, Images and Photos

Jadwal Imsakiyah Ramadan 1431H/2010 M KLIK DISINI

Kirimkan artikel atau tulisan Anda ke:

syiar.ipb@gmail.com

Hubungi: 081324010428 (SMS ONLY)

plugin