Share on facebook
KUII dan Konferensi Penghafal Al-Quran: Momentum Saatnya Memimpin Dengan Al-Quran
Sabtu, 08 Mei 2010 07:57

oleh: Andi Perdana Gumilang

Ada peristiwa penting bagi umat Islam di Indonesia pada tanggal 7-10 Mei 2010 yaitu diadakannya Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V dan konferensi penghafal Al-Qur'an se-Asia Pasifik dimana Indonesia menjadi tuan rumahnya. KUII ini diselenggarakan oleh MUI bertempat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur dengan mengambil tema “Kepemimpinan Umat untuk Kesejahteraan Bangsa” sedangkan konferensi penghafal Al-quran diselenggarakan di Masjid Istiqlal dan Hotel Cemara Jakarta, dengan mengambil tema yaitu “Peran Para Huffazh di Masyarakat”. Mencermati tema yang dimunculkan pada acara tersebut maka didapatkan keterkaitan pada kedua tema tersebut yakni tentang kepemimpinan dan Al-Quran untuk dihafal lalu diamalkan.

Saat ini perlu kita akui bahwa dunia sedang berada di bawah kepemimpinan dan sistem Kapitalisme global yang telah membawa bencana kemanusiaan yang luar biasa seperti: kemiskinan global, ketimpangan negara maju dan dunia Ketiga, pembunuhan massal atas nama demokrasi dan perang melawan terorisme di Irak dan Afganistan, penjajahan di Palestina, perampokan kekayaan alam dunia ketiga yang memiskinkan rakyat, kejahatan yang meluas dan krisis spiritual. Selain itu di Indonesia akibat diterapkan sistem kapitalisme mengalami permasalahan yang kompleks diantaranya kemiskinan, pendidikan yang semakin mahal, korupsi, kesehatan kian tak terjangkau, kekayaan alam diserahkan kepada asing, badan usaha milik negara (BUMN) dijual kepada swasta lokal atau asing dan hampir semua kehidupan sosial, budaya, politik, serta ekonomi secara umum didominasi oleh kepentingan negara besar. Ini menunjukkan bahwa ada permasalahan besar  yang menimpa bangsa ini yakni masalah kepemimpinan yang lemah dan tidak amanah. Lalu apa akar dari kepemimpinan yang lemah itu?.

Akar Kepemimpinan Yang Lemah
Kelemahan suatu kepemimpinan disebabkan oleh lemahnya pribadi pemimpin, buruknya sistem yang dijalankan dan sikap rakyat atau masyarakat yang cenderung tak acuh. Faktor kelemahan pertama seorang pemimpin adalah tidak mandiri. Ia bergantung pada negara besar, bahkan menjadi antek penjajah. Keputusan yang diambil selalu melihat sikap negara besar.

Selain ketergantungan pada negara lain, penguasa yang tidak tegas dan berani akan menjelma menjadi pemimpin yang lemah; tidak akan bisa mengatakan “Tidak!”. Padahal seharusnya, ketegasan ini ditunjukkan dengan berpegang pada kebenaran. Bila salah, katakan salah; benar, katakan benar. Tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah SWT. Konsekuensinya, penerapan hukum tidak boleh tebang pilih.

Kepemimpinan yang lemah terjadi karena tidak adanya kesadaran ideologis dan politis. Langkah-langkah yang dilakukan lebih bersifat pragmatis. Pikirannya tertuju pada mempertahankan kekuasaan, memenangkan pemilu, mengembangkan partainya dll atau aktivitas yang dilakukannya hanya sekadar untuk menyenangkan pihak asing dibandingkan mengurusi rakyat. Jika ini terjadi, hakikatnya pemimpin tersebut merupakan ’budak’ yang tidak memiliki kemandirian. Apalagi jika dalam kepemimpinannya tidak menjadikan Islam sebagai landasan, tidak takut akan siksa Allah ketika melanggar syariah-Nya. Karenanya, pemimpin seperti ini tidak dapat diharapkan membawa kebaikan dalam kepemimpinannya untuk kesejahteraan bangsa.

Selain itu sistem yang diterapkannya pada kepemimpinan yang lemah adalah sistem warisan kolonial walaupun penjajah angkat kaki, namun aturannya tetap saja diterapkan, sekulerisme diterapkan. Konsekuensinya, pada masa Orde Lama, umat Islam dipinggirkan. Pada masa Orde Baru, umat Islam dicurigai dan diwaspadai serta dicap dengan tuduhan subversif. Berikutnya, pada masa Orde Reformasi umat Islam distigmatisasi dengan tuduhan fundamentalis dan teroris. Padahal mana ada aturan penjajah yang dibuat untuk memajukan rakyat jajahan? Selama sistem sekuler warisan penjajah diterapkan, selama itu pula rakyat akan terjajah. Bahayanya, sistem yang buruk dengan pemimpin yang lemah justru dibiarkan. Rakyat tidak mengoreksinya, itulah buah dari kelemahan kepemimpinan.

Saatnya Memimpin Dengan Al-Quran
Al-Quran yang mulia adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril, baik lafadz maupun maknanya dan akan menjadi ibadah bila membacanya. Dengan demikian, Allah menurunkan al-Quran tiada lain agar diambil, diikuti dan dijadikan petunjuk oleh manusia dalam menjalani hidup dan mengelola kehidupan ini. Allah SWT berfirman:

Al-Quran adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkati. Karena itu, ikutilah dia agar kalian dirahmati. (QS al-An‘am [6]: 155)

Allah SWT juga memerintahkan agar kita berpegang teguh dengan al-Quran:
Berpegang teguhlah kamu dengan apa yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. (QS az-Zukhruf [43]: 43).

Alangkah indahnya hidup kita, bila kita tidak hanya sekedar bisa membaca Al Quran, tetapi juga menghafal dan mengamalkannya. Banyak hadits Rasulullah Saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur’an karena terdapat keutamaannya diantaranya seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas

“Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh” (HR. Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Penghafal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan”  (HR. Tirmidzi, hadits hasan, Inu Khuzaimah, Al Hakim, ia menilainya hadits shahih)

Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

“Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun alaih)
“Nikmat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Quran, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan padanya.” (HR. Hakim)

Beberapa hadist tersebut menunjukkan bahwa anjuran untuk menghafal al-quran karena banyak keutamaan didalamnya oleh karena itu maka diselenggarakannya Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V dan konferensi penghafal Al-Qur'an se-Asia Pasifik dengan mengkaitkan kedua tema tersebut sejatinya dapat dijadikan momentum agar umat Islam tergugah untuk mau menghafal al-quran dan yang terpenting adalah menerapkan hukum Al-Quran dalam segala aspek kehidupan dalam suatu kepemimpinan untuk mewujudkan kesejahteraan umat karena dimana hukum syariah diterapkan maka pasti akan membawa manfaat bagi manusia.

Karenanya, keberadaan negara (Khilafah) atau kepemimpinan dalam Islam adalah sangat penting. Karena tanpa Khilafah, mustahil kita bisa menerapkan  hukum al-Quran secara totalitas. Tanpa Khilafah, banyak sekali ayat Al-Quran yang dicampakkan. Padahal menelantarkan Al-Quran walaupun sebagian termasuk tindakan dosa. Karena itu, berdirinya Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah harus disegerakan agar tidak ada satu ayat Al-Quran pun yang diabaikan. Inilah seharusnya yang dijadikan pesan penting dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V dan konferensi penghafal Al-Qur'an se-Asia Pasifik seperti saat ini.

 

Add comment


Security code
Refresh

LDK BKIM IPB Mengucapkan:

ucapan idul fitri, ucapan lebaran, selamat idul fitri Pictures, Images and Photos

Jadwal Imsakiyah Ramadan 1431H/2010 M KLIK DISINI

Kirimkan artikel atau tulisan Anda ke:

syiar.ipb@gmail.com

Hubungi: 081324010428 (SMS ONLY)

plugin