| KUII dan Konferensi Penghafal Al-Quran: Momentum Saatnya Memimpin Dengan Al-Quran |
| Sabtu, 08 Mei 2010 07:57 |
|
oleh: Andi Perdana Gumilang
Saat ini perlu kita akui bahwa dunia sedang berada di bawah kepemimpinan dan sistem Kapitalisme global yang telah membawa bencana kemanusiaan yang luar biasa seperti: kemiskinan global, ketimpangan negara maju dan dunia Ketiga, pembunuhan massal atas nama demokrasi dan perang melawan terorisme di Irak dan Afganistan, penjajahan di Palestina, perampokan kekayaan alam dunia ketiga yang memiskinkan rakyat, kejahatan yang meluas dan krisis spiritual. Selain itu di Indonesia akibat diterapkan sistem kapitalisme mengalami permasalahan yang kompleks diantaranya kemiskinan, pendidikan yang semakin mahal, korupsi, kesehatan kian tak terjangkau, kekayaan alam diserahkan kepada asing, badan usaha milik negara (BUMN) dijual kepada swasta lokal atau asing dan hampir semua kehidupan sosial, budaya, politik, serta ekonomi secara umum didominasi oleh kepentingan negara besar. Ini menunjukkan bahwa ada permasalahan besar yang menimpa bangsa ini yakni masalah kepemimpinan yang lemah dan tidak amanah. Lalu apa akar dari kepemimpinan yang lemah itu?. Akar Kepemimpinan Yang Lemah Selain ketergantungan pada negara lain, penguasa yang tidak tegas dan berani akan menjelma menjadi pemimpin yang lemah; tidak akan bisa mengatakan “Tidak!”. Padahal seharusnya, ketegasan ini ditunjukkan dengan berpegang pada kebenaran. Bila salah, katakan salah; benar, katakan benar. Tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah SWT. Konsekuensinya, penerapan hukum tidak boleh tebang pilih. Kepemimpinan yang lemah terjadi karena tidak adanya kesadaran ideologis dan politis. Langkah-langkah yang dilakukan lebih bersifat pragmatis. Pikirannya tertuju pada mempertahankan kekuasaan, memenangkan pemilu, mengembangkan partainya dll atau aktivitas yang dilakukannya hanya sekadar untuk menyenangkan pihak asing dibandingkan mengurusi rakyat. Jika ini terjadi, hakikatnya pemimpin tersebut merupakan ’budak’ yang tidak memiliki kemandirian. Apalagi jika dalam kepemimpinannya tidak menjadikan Islam sebagai landasan, tidak takut akan siksa Allah ketika melanggar syariah-Nya. Karenanya, pemimpin seperti ini tidak dapat diharapkan membawa kebaikan dalam kepemimpinannya untuk kesejahteraan bangsa. Selain itu sistem yang diterapkannya pada kepemimpinan yang lemah adalah sistem warisan kolonial walaupun penjajah angkat kaki, namun aturannya tetap saja diterapkan, sekulerisme diterapkan. Konsekuensinya, pada masa Orde Lama, umat Islam dipinggirkan. Pada masa Orde Baru, umat Islam dicurigai dan diwaspadai serta dicap dengan tuduhan subversif. Berikutnya, pada masa Orde Reformasi umat Islam distigmatisasi dengan tuduhan fundamentalis dan teroris. Padahal mana ada aturan penjajah yang dibuat untuk memajukan rakyat jajahan? Selama sistem sekuler warisan penjajah diterapkan, selama itu pula rakyat akan terjajah. Bahayanya, sistem yang buruk dengan pemimpin yang lemah justru dibiarkan. Rakyat tidak mengoreksinya, itulah buah dari kelemahan kepemimpinan. Saatnya Memimpin Dengan Al-Quran Al-Quran adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkati. Karena itu, ikutilah dia agar kalian dirahmati. (QS al-An‘am [6]: 155) Allah SWT juga memerintahkan agar kita berpegang teguh dengan al-Quran: Alangkah indahnya hidup kita, bila kita tidak hanya sekedar bisa membaca Al Quran, tetapi juga menghafal dan mengamalkannya. Banyak hadits Rasulullah Saw yang mendorong untuk menghafal Al Qur’an karena terdapat keutamaannya diantaranya seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh” (HR. Tirmidzi) Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw bersabda: Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim) “Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun alaih) Beberapa hadist tersebut menunjukkan bahwa anjuran untuk menghafal al-quran karena banyak keutamaan didalamnya oleh karena itu maka diselenggarakannya Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V dan konferensi penghafal Al-Qur'an se-Asia Pasifik dengan mengkaitkan kedua tema tersebut sejatinya dapat dijadikan momentum agar umat Islam tergugah untuk mau menghafal al-quran dan yang terpenting adalah menerapkan hukum Al-Quran dalam segala aspek kehidupan dalam suatu kepemimpinan untuk mewujudkan kesejahteraan umat karena dimana hukum syariah diterapkan maka pasti akan membawa manfaat bagi manusia. Karenanya, keberadaan negara (Khilafah) atau kepemimpinan dalam Islam adalah sangat penting. Karena tanpa Khilafah, mustahil kita bisa menerapkan hukum al-Quran secara totalitas. Tanpa Khilafah, banyak sekali ayat Al-Quran yang dicampakkan. Padahal menelantarkan Al-Quran walaupun sebagian termasuk tindakan dosa. Karena itu, berdirinya Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah harus disegerakan agar tidak ada satu ayat Al-Quran pun yang diabaikan. Inilah seharusnya yang dijadikan pesan penting dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V dan konferensi penghafal Al-Qur'an se-Asia Pasifik seperti saat ini. |
LDK BKIM IPB Mengucapkan:
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1431H/2010 M KLIK DISINI

![]()
![]()
![]()
![]()