Share on facebook
Hari Lingkungan Hidup: Saatnya Selamatkan Lingkungan Dengan Syariah
Sabtu, 05 Juni 2010 17:36

Hari Lingkungan Hidup yang diperingati pada tanggal 5 Juni 2010, setidaknya memberikan momentum untuk membangkitkan kesadaran akan mengelola lingkungan sumberdaya alam di bumi ini. Tidak sedikit nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang membahas isu lingkungan. Pesan-pesan Al-Qur’an mengenai lingkungan sangat jelas. Mulai dari penegasan Al-Qur’an bahwa lingkungan adalah suatu sistem dan manusia harus bertanggung jawab untuk memeliharanya. Al-Qur’an juga melarang kita merusak lingkungan dan menerangkan alam adalah sumber daya yang harus dikembangkan. Artinya, segala kerusakan yang terjadi di lingkungan kita, itu pasti ulah kita, tangan manusia.

Lingkungan adalah sumber daya yang Allah siapkan bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Allah SWT. berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” [QS. Al-Mulk (67): 15]. Hanya saja, kemampuan regenerasi lingkungan sangat terbatas. Artinya, selama kita mengeksploitasi di bawah batas daya regenerasinya, sumber daya alam yang terbaharui dapat digunakan secara lestari. Tapi bila batas itu dilampaui, akan timbul kerusakan. Alam tidak akan bisa menjalankan fungsinya sebagai faktor produksi, konsumsi dan sarana pelayanan bagi kesejahteraan manusia lagi. Karena itu, semua upaya kita dalam melakukan aktivitas hidup dan mewujudkan pembangunan haruslah memperhatikan resiko lingkungan. Tugas kita adalah memakmurkan alam, bukan merusak alam.

Tragedi Lumpur Lapindo Sebagai Pelajaran
Tragedi lumpur lapindo yang berawal pada 27 Mei 2006 merupakan salah satu bukti problem lingkungan kita yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah sebagai pelajaran untuk memperhatikan, menjaga dan melestarikan lingkungan, kini sudah berusia empat tahun terjadi.

Dalam kurun empat tahun itu, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) merilis bahwa sudah sebesar Rp 2,8 triliun APBN yang terpakai untuk menangani semburan lumpur itu. Akibat tragedi Lumpur Lapindo ini, masyarakat menderita kerugian secara langsung yang amat besar, seperti kerusakan aset dan infrastruktur disebabkan dampak langsung tragedi lumpur Lapindo sebesar Rp 5,1 triliun. Tidak hanya itu tragedi Lumpur Lapindo berdampak kepada perekonomian Kabupaten Sidoarjo dan wilayah sekitarnya yakni berupa hilangnya sumber-sumber pendapatan masyarakat, pemerintah pusat atau daerah, dan dunia usaha akibat rusaknya lahan pertanian, pertambakan, pabrik, dan peralatan.

Sebenarnya bila dicermati masalah lingkungan hanyalah bagaimana mengupayakan berlangsungnya proses pengaturan alam agar tercipta keseimbangan. Khususnya menyangkut lahan (tanah), air, dan udara. Ini tiga unsur yang sangat penting bagi manusia.

Akibat sikap nafsu keserakahan manusia dan enggan mengikuti petunjuk Allah SWT dalam mengelola lingkungan bumi ini, maka terjadilah bencana alam dan kerusakan di bumi. Sebagaimana dalam firman Allah SWT:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” [QS. Ar-Rum (30): 41-42].

Pemanasan Global
Problem lingkungan kita kini semakin serius. Mulai kerusakan di daratan, lautan dan udara yang semuanya sudah bersifat global: pemanasan global dan kerusakan lapisan ozon di stratosfer.

Pemanasan global (global warning) adalah peristiwa naiknya intensitas efek rumah kaca (ERK) yang terjadi karena adanya gas dalam atmosfer yang menyerap sinar panas (sinar inframerah) yang dipancarkan bumi. Gas itu disebut gas rumah kaca (GRK). Dengan penyerapan itu sinar panas terperangkap sehingga suhu permukaan bumi naik.

Dampak negatif pemanasan global adalah terjadinya perubahan iklim sedunia, frekuensi dan intensitas badai naik, dan volume air laut bertambah aibat melelehnya es abadi di kutub dan pegunungan tinggi. Tanah pun ikut mengering. Artinya, areal pertanian dan perikanan terancam.

Jika volume air laut bertambah, maka permukaan laut akan naik. Diperkirakan pada tahun 2030 suhu akan naik 1,5-4,5oC. Air laut naik 25-140 cm. Kota yang tanahnya di bawah permukaan laut seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya punya masalah besar. Jika permukaan laut naik 1 cm, garis pantai akan mundur 1 m. Untuk kenaikan 25-140 cm, maka garis pantai mundur 25-140 m! Bisa kita bayangkan seperti apa perubahan wajah peta dunia.

Ancaman tidak hanya dari laut. Kelangsungan hidup kita terancam akibat penipisan lapisan ozon. Ozon adalah senyawa kimia yang terdiri atas tiga atom oksigen. Jika ada di lapisan atas atmosfer, ozon bisa melindungi semua makhluk hidup di bumi dari pancaran sinar ultraviolet matahari. Tapi, jika ozon menumpuk di lapisan bawah atmosfer, akan mengganggu kesehatan kita: memicu kanker kulit, katarak dan penurunan kekebalan tubuh.

Lapisan ozon di lapis atas atmosfer menipis karena tergerus zat kimia clorofuorokarbon  (CFC) yang kita gunakan di pendingin AC dan almari es (gas freon), parfum, hairspray, dan zat racun hama (gas pendorong dalam aerosal).

Saatnya Kita Selamatkan Lingkungan
Proses kerusakan lingkungan yang telah terjadi dan terus berjadi di Indonesia sepanjang lebih disebabkan oleh negara yang menganut neoliberalisme. Terlebih karena negara sering menjadi boneka dari kepentingan-kepentingan korporasi yang menganut neolib.

Kandungan sumberdaya alam lingkungan dan sumber-sumber energi yang besar  di Indonesia hanya menjadi jualan murah bagi pemodal-pemodal asing. Maka Untuk mengatasinya, pemerintah perlu menolak terhadap penjualan sumberdaya lingkungan oleh pemodal asing. Selain itu kita harus membentuk SDM yang bertakwa yang bisa mengelola bumi sesuai petunjuk Allah SWT yakni SDM yang dapat menjaga, melindungi dan melestarikan keutuhan ekosistem lingkungan tempat hidup kita yang merupakan bukti keimanan kepada Allah SWT sang pencipta seluruh alam. Maka Jika rusak, itu pertanda bahwa ada amalan kita yang belum sempurna dalam mengaplikasikan ajaran Allah SWT. Oleh karena dibutuhkan kesadaran oleh semua pihak untuk lebih peduli dalam mengelola lingkungan berdasarkan syariah agar lingkungan dapat lestari dan berkelanjutan.

Andi Perdana Gumilang, S.Pi

Tim BPPS (Badan Pengkajian & Pengembangan Strategis) Laboratorium Dakwah Syiar BKIM IPB
Email: Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

 

Comments 

 
0 #1 izzuddien 2010-06-05 18:37
izin copas mas
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

LDK BKIM IPB Mengucapkan:

ucapan idul fitri, ucapan lebaran, selamat idul fitri Pictures, Images and Photos

Jadwal Imsakiyah Ramadan 1431H/2010 M KLIK DISINI

Kirimkan artikel atau tulisan Anda ke:

syiar.ipb@gmail.com

Hubungi: 081324010428 (SMS ONLY)

plugin